Akad dalam muamalah: pengertian, dasar hukum, aspek penting, jenis-jenis dan penerapannya di lembaga keuangan syariah
![]() |
Canva |
Apa yang dimaksud dengan akad?
Kebanyakan orang lebih mengenal akad melalui akad nikah. Bahkan, mungkin saja termasuk Anda juga begitu. Namun, perlu dipahami bahwa sebenarnya akad sendiri bukan hanya ada di pernikahan. Akad juga berkaitan erat dengan kegiatan perdagangan atau kerjasama. Kata, “akad” sendiri dapat diartikan sebagai sebuah ikatan yang mengikat kedua belah pihak. Akad dalam bahasa arab berasal dari kata, “al-aqdu” atau “aqd” yang berarti simpul yang mengikat kuat. Kata ini sama dengan asal kata, “akidah” yang juga berarti simpul.
Akad (aqd) atau transaksi atau kontrak adalah ikatan antara manusia berupa tindakan-tindakan yang akan mengubah status harta. Mengubah status yang dimaksud adalah status kepemilikan harta. Artinya, perpindahan kepemilikan sebuah harta dari seseorang ke orang lainnya melalui sebuah kegiatan. Sebagai contoh, misalnya akad jual beli yang akan membuat/mengubah status kepemilikan sebuah harta menjadi milik orang lain. Tentunya, berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak yang berakad.
Apakah dasar hukum bolehnya suatu akad?
Terdapat banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang menerangkan terntang akad. Berhubung keterbatasan ruang untuk menyampaikannya, maka kami akan berikan hanya beberapa yang paling umum digunakan. Salah-satu yang paling terkenal yaitu Al-Baqarah ayat 188 yang berbunyi:
وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
Terjemahnya:
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”
Larangan memakan harta orang lain dengan bathil (tidak baik) apalagi dengan melibatkan hakim dalam ayat tersebut mengisyaratkan perintah bagi manusia untuk melakukan kesepakatan atau akad dalam urusan harta. Artinya, akad digunakan menjadi sebuah sarana bagi manusia untuk bertukar harta yang mana tidak ada kebathilan atau keburukan di dalamnya. Selain surah Al-Baqarah ayat 188, ayat yang juga menerangkan tentang akad juga terdapat dalam surah Al-Maidah ayat 1 yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَوۡفُواْ بِٱلۡعُقُودِۚ أُحِلَّتۡ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَٰمِ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”
Pesan awal dari surah Al-Maidah ayat 1 tersebut memerintahkan bagi orang-orang beriman untuk memenuhi akad yang mereka lakukan. Artinya, akad merupakan sebuah perjanjian yang mengikat kedua belah pihak/orang yang melakukannya sehingga keduanya harus atau wajib memenuhi akad yang telah mereka sepakati. Demikianlah hukum yang telah ditetapkan Allah Swt bahwa akad-akad harus dipenuhi oleh orang-orang yang melakukan akad tersebut.
Apa saja aspek penting dalam suatu akad?
Aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan ketika melakukan sebuah akad yaitu rukun dan syarat akad. Rukun dan syarat ini menjadi penting sebagai indikator keabsahan sebuah akad. Artinya, apabila sebuah akad tidak terpenuhi rukun dan syaratnya maka akad tersebut dapat dianggap tidak sah. Menurut ahli-ahli hukum Islam kontemporer, rukun yang membentuk akad itu ada empat, yaitu: (1) para pihak yang membuat akad (al-aqidan), (2) pernyataan kehendak /kesepakatan para pihak (shigatul-aqd), (3) obyek akad (mahallul-aqd) ,dan (5) tujuan akad (maudhu al-aqd). Rukun-rukun ini harus ada untuk terjadinya akad.
Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya Pengantar Fiqh Muamalah menjelaskan syarat-syarat yang harus ada pada akad. Pertama, kedua belah pihak adalah orang/pihak yang dipandang cakap/berwenang untuk mengadakan akad. Akad yang dilakukan oleh anak kecil, orang gila, dan orang berada di bawah pengampuan dipandang batal dengan sendirinya. Kedua, akad tersebut diizinkan dan sesuai dengan ketentuan syariat. Ketiga, masing-masing pihak menyadari dan menyetujui konsekuensi hukum dari akad yang mereka sepakati. Keempat, akad dan objek akad bukanlah hal yang dilarang oleh syariat. Syarat ini merupakan konsekuensi dari syarat nomor dua sebelumnya. Kelima, akad yang dibuat harus memberi manfaat bagi pihak yang berakad maupun bagi orang lain. Keenam, pernyataan penyerahan akan terus berjalan (apabila tidak dinyatakan batal) sebelum terjadinya kabul (pernyataan penerimaan). Kecuali mujib (orang yang menyatakan ijab) membatalkan sendiri ijabnya sebelum ada kabul dari muqbil (orang yang menerima atau menjawab ijab). Ketujuh, bertemu dalam majelis akad. Syarat ini dikemukakan oleh mazhab Syafi’i yang mensyaratkan orang yang berijab kabul haruslah satu majelis, dan dianggap batal apabila mujib dan muqbil tidak bertemu dalam satu majelis.
Apa saja jenis-jenis akad?
Seperti yang dikatakan sebelumnya, akad tidaklah selalu tentang pernikahan. Akad merupakan sebuah kesepakatn yang mengikat kedua belah pihak yang melakukan akad tersebut. Namun, dalam lingkungan apa saja akad diterapkan? Atau apa saja jenis-jenis akad yang ada selain akad pernikahan? Jawabannya sebagai berikut:
- Akad titipan yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan kegiatan penitipan. Contoh akad ini adalah wadiah.
- Akad jual-beli yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan kegiatan perdagangan atau tijarah.
- Akad utang-piutang yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan kegiatan utang-piutang atau qardh.
- Akad kerjasama yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan kegiatan kerjasama baik dalam perniagaan/perdagangan maupun pertanian. Contohnya kerjasama mudharabah dan muzaraah.
- Akad sewa-menyewa yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan kegiatan sewa-menyewa atau ijarah.
- Akad pegadaian yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan kegiatan pegadaian atau rahn.
- Akad perjanjian yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang melakukan perjanjian. Contohnya janji seorang suami untuk sehidup semati.
- Akad perwakilan yaitu akad yang mengikat dua belah pihak yang mana salah-satu pihak memberi kuasa kepada pihak lain untuk menggantikan dirinya melakukan sesuatu. Contohnya wakalah.
Selain akad-akad tersebut, mungkin masih banyak jenis akad lainnya yang belum dituliskan dalam artikel ini karena perkembangan penggunaan akad yang semakin modern dan bervariasi dalam lembaga keuangan. Nah! Jika Anda punya informasi terkait jenis akad baru dalam lembaga keuangan, silahkan share di kolom komentar, yah!
Bagaimana penerapan akad dalam lembaga keuangan?
Penggunaan akad dalam lembaga keuangan bukanlah sesuatu yang baru. Banyak sekali produk lembaga keuangan yang kini menggunakan basis akad-akad syariah dalam Islam. Sebagai contoh, dalam perbankan syariah, akad titipan misalnya akad wadiah diwujudkan dalam produk giro wadiah. Sedangkan akad lain misalnya kerjasama mudharabah diwujudkan dalam akad tabungan mudharabah dan deposito mudharabah. Penggunaan akad-akad ini dinilai lebih menguntungkan baik dari pihak lembaga keuangan maupun nasabah.
Beberapa contoh penggunaan akad-akad syariah dalam lembaga keuangan juga dapat ditemukan di lembaga keuangan selain bank (non-bank). Lembaga-lembaga ini misalnya pegadaian syariah yang menggunakan akad rahn, asuransi syariah yang menggunakan akad tabarru, ventura syariah yang menggunakan akad musyarakah, reksadana syariah yang menggunakan akad mudharabah, pasar modal syariah yang menggunakan akad mudharabah, serta baitul mal wa tamwil yang menggunakan akad wadiah, tijarah, dan mudharabah.
Posting Komentar untuk "Akad dalam muamalah: pengertian, dasar hukum, aspek penting, jenis-jenis dan penerapannya di lembaga keuangan syariah"